2 LANGKAH STRATEGIS JOKOWI HADAPI GUGATAN
NIKEL DI WTO
Pascakekalahan
Indonesia di Badan Penyelesaian Sengketa di WTO, Presiden Joko Widodo atau
Jokowi tetap tidak menyerah sebab kebijakan hilirisasi sumber daya alam demi kepentingan
nasional.
Presiden
Jokowi telah mengeluarkan dua langkah penting dan strategis. Pertama, Indonesia
akan mengajukan banding usai kalah di WTO. Kedua, ada kemungkinan pemerintah
menaikkan pajak ekspor bijih nikel sebagai cara untuk melanjutkan hilirisasi
salah satu mineral logam tersebut.
Merespon hal
tersebut, Anggota Komisi VII DPR RI Abdul Wahid mendukung penuh langkah
Presiden Jokowi dalam merespons kekalahan gugatan dari Uni Eropa terhadap
kebijakan hilirisan dan pelarangan ekspor bijih nikel.
Menurut
Abdul Wahid, dua langkah yang diambil oleh Presiden Jokowi dalam menghadapi
keputusan WTO sudah tepat. Yakni menaikkan pajak ekspornya dan melakukan
banding sambil menyiapkan seluruh perangkat smelter untuk hilirisasi.
“Dua langkah
itu sudah tepat, artinya ada dua opsi bahwa bagusnya kita banding dan banding
itu status quo sambil kita siapkan semua perangkat smelter itu untuk
hilirisasi. Artinya kita masih ada waktu untuk persiapan hilirisasi dan saat
itu kan sudah matang banget dan itu langkah yang paling tepat,” kata Abdul
Wahid saat dihubungi, Sabtu (17/12).
Dikatakan
politisi PKB ini, jika dalam banding nanti yang dilakukan pemerintah dan
hasilnya mengecewakan, maka pemerintah bisa mengambil langkah kedua, yakni
menaikan pajak ekspor bahan mentah nikel dan itu keputusan negara yang tidak
bisa diintervensi oleh pihak manapun, termasuk WTO.
“Jika
seandainya kita kalah ya kita harus menaikkan ekspor bahan baku nikel itu lebih
tinggi pajaknya, pajak ekspornya lebih tinggi karena itu kebijakan negara.
Artinya negara nggak boleh kalah dalam hal ini dari sistem perdagangan
internasional,” tegasnya.
Lanjut Abdul
Wahid, komitmen Jokowi untuk tidak gentar menghadapi gugatan WTO patut
diapresiasi. Sebab, selain melindungi sumber daya alam Indonesia untuk
kesejahteraan rakyat, juga mendorong Indonesia menjadi negara maju serta
menciptakan lapangan kerja yang banyak.
"Karena
kita kan melindungi negara, berkewajiban melindungi warganya dan seluruh tumpah
darah dan tanah airnya. Nah potensi sumber daya alam yang itu kan bagian dari
menjaga keutuhan bangsa, maka langkah-langkah itu harus dilakukan. Itu langkah
yang paling tepat,” jelasnya.
Ekspor Bahan Jadi
Menurut
Abdul Wahid, dengan dinaikkan pajak ekspor nanti dan pembeli dari negara lain
tidak mampu, maka itu menjadi kesempatan Pemerintah untuk mengolah sendiri dan
yang diekspor kemudian adalah bahan jadi.
“Jika ekspor
bahan baku mentah itu lebih tinggi umpamanya dari pajak, maka bahan yang sudah
jadi dengan sendirinya mau gak mau ya tentu harus diolah dulu baru diekspor,”
ujarnya.
Dijelaskan
Abdul Wahid, kenaikan pajak ekspor bahan mentah nikel tidak akan berpengaruh
pada investasi di Indonesia, karena pemerintah akan melakukan hilirisasi dan
itu sangat menguntungkan Indonesia, karena selain keuntungan pendapatan juga
bisa membuka lapangan kerja.
“Enggak lah
karena kita sudah siap untuk hilirisasi, nggak akan ada begitu (pengaruh
investasi-red) karena itu kita melindungi produk-produk kita, pengen add value
dari sebuah kegiatan eksplorasi sumber daya alam, itu baru bisa menggerakkan
pertumbuhan ekonomi kalau dimaksimalkan dengan efektif dan efisien,” akuinya.
Harus Ada Strategi Hadapi WTO
Diungkapkan
Abdul Wahid, harus ada strategi dalam menghadapi keputusan WTO atas hasil
kekayaan alam Indonesia, agar Indonesia tidak didikte oleh pihak manapun,
termasuk soal larangan ekspor bahan mentah nikel.
“Tentu itu
harus ada strateginya, yang pertama penyematan modal begitu juga dengan sumber
manusianya, tentu bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah strategi yang harus
kita implementasikan atau harus kita eksekusi,” ungkapnya.
Untuk itu,
Abdul Wahid memastikan pihaknya mendukung penuh langkah Pemerintah, dalam hal
ini Presiden Jokowi menghadapi WTO untuk melindungi sumber daya alam Indonesia.
“Bahwa kita
mendukung langkah Pemerintah dalam menjaga sumber daya alam kita, jangan sampai
dieksplorasi tetapi tidak memberikan add value dari sebuah kegiatan
pertambangan, kita pengen add value itu maksimal di semua sumber daya alam ini.
Karena memang salah satu faktor penunjang dari pertumbuhan ekonomi kita itu
dari sumber daya alam,” tegasnya lagi.
“Iya harus
dilawan, kita nggak boleh tunduk dari sistem ekonomi dunia selagi ada peluang,
ya kita ambil peluang itu,” tutupnya.


0 comments:
Posting Komentar